Senin, 20 September 2010

prinsip kerja pada sistem CVT matic pada motor

Cara kerja cvt pada matic

Banyak siswa yang menanyakan "gmana sih pak cara kerja cvt pada matic tuh?
Berikut penjelasan bagaimana cvt bekerja
Mungkin banyak siswa smk sekolah lain juga belum mengerti cara kerja dari mesin matik atau CVT(Continuously Varible Transmission) pada sepeda motor.
Ternyata lebih sederhana dari mesin konvensional atau mesin bertransmisi.



Semua komponen CVT terdapat pada boks CVT atau secara kasat mata bentuknya adalah lengan ayun sebelah kiri motor matik kita, yang terlihat begitu besar dan berat. Disitu terdapat tiga komponen utama yaitu puly depan(Drive Pulley), puly belakang(Driven Pulley) dan v-belt. Puly depan dihubungkan ke crankshaft engine(kruk-as), sedangkan puly belakang dihubungkan ke as-roda. Yang menghubungkan puly depan dan puly belakang adalah v-belt.



Pada saat stationer atau putaran rendah, puly depan memiliki radius yang kecil dibandingkan dengan puly belakang atau rasio gigi ringan. Seiring dengan bertambahnya putaran mesin (rpm), maka puly depan radiusnya juga ikut membesar sedangkan puly belakang justru mengecil atau sama dengan rasio gigi berat.

Untuk kerja v-belt hanya menghubungkan kedua puly tersebut agar dapat berjalan secara bergantian. Jadi saat puly depan membesar maka yang menyebabkan puly belakang mengecil adalah karena desakan dari v-belt, karena panjang v-belt selalu sama pada proses ini.

Karena kerja CVT yang linear, maka mesin matik dapat menghasilkan akselerasi yang halus tanpa adanya kehilangan tenaga.

Jumat, 07 Agustus 2009

Sistem Injeksi Lebih Bertenaga dan Efisien


Kebutuhan akan kendaraan yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan, kini menjadi perhatian para pengguna dan pemilik kendaraan. Alasan utamanya karena semakin menipisnya minyak bumi yang berimbas pada mahalnya harga bahan bakar. Karena pertimbangan inilah masyarakat memilih kendaraan yang efisien.

Salah satu faktor yang memengaruhi tingkat efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang adalah sistem penyuplai bahan bakar. Saat ini teknologi electronic fuel injection (EFI) menjadi pengganti karburator sebagai pengabut bahan bakar. Keunggulan dari sistem injeksi bahan bakar elektronik ini adalah efisiensi yang tinggi dibandingkan karburator. Alasannya, tingkat akurasi campuran bahan bakar dan udara sangat tinggi.

Cara kerja sistem injeksi bahan bakar elektronik adalah bahan bakar ditekan oleh pompa bertekanan tinggi (high pressure regulator fuel pump) melalui fuel rail menuju injector/nozzle yang mengarah ke ruang bakar (combustion chamber). Buka tutup injector ini diatur oleh ECU (electronic control unit) yang juga mengatur sistem pengapian (ignition). Secara singkat kebutuhan bahan bakar mesin diatur oleh ECU berdasarkan data yang diterima dari beberapa sensor seperti O2 sensor, throttle body position sensor, dan mass flow sensor yang membaca berapa banyak udara yang masuk ke throttle body. Sedangkan dalam sistem karburator, bahan bakar ikut masuk ke ruang bakar (pengabutan) menggunakan udara vakum melalui spuyer (main jet & pilot jet) yang diperoleh dari isapan piston sehingga akurasi campuran bahan bakar dan udara masih rendah.

Keuntungan dari sistem injeksi dibandingkan karburator yaitu menghasilkan tenaga besar, lebih efisien dan rendah emisi karena campuran bahan bakar dan udaranya akurat. Hal inilah yang menjadikan pembakaran lebih sempurna.

Di Indonesia kendaraan mobil sudah banyak yang dilengkapi sistem injeksi, dibandingkan dengan jenis sepeda motor. Baru-baru ini sepeda motor Honda dan Yamaha telah dilengkapi sistem injeksi elektronik. Sepeda motor yang telah dipasarkan tersebut dinilai sebagai suatu terobosan baru karena selama ini sepeda motor yang beredar menggunakan karburator untuk penyuplai bahan bakar.***

Jumat, 10 April 2009

info automotive

">Beberapa tahun terakhir ini, telah banyak pabrikan kendaraan mengaplikasikan teknologi injeksi bahan bakar di setiap produknya. Beberapa produsen otomotif memberi namanya macam-macam dan memberi kesan canggih, namun tetap bersistem kerja injection. Lantas, apa kelebihan sistem ini jika dibandingkan dengan karburator?

">Teknologi EFI (Electronic Fuel Injection) sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai teknologi yang terbaru, karena teknologi ini sudah diterapkan beberapa tahun lalu. Dan EFI sebenarnya baru diterapkan pada kendaraan keluaran dasawarsa 1990-an.

">Sebagaimana dijelaskan Achmad Rizal R, seorang yang mengerti tentang, penggunaan EFI saat itu masih terbatas pada jenis sedan. Baru di akhir 1990-an dan awal 2000, kendaraan tipe minivan seperti Kijang atau SUV ikut mengadopsi. Pada era sekarang istilah EFI mulai memperoleh saingan: PGM-FI, EPFI, ECFI, T-DIS, VVT-i, i-VTEC, MIVEC, VANOS, Valvetronic, dan sebagainya.

">Istilah-istilah itu kemudian diangkat oleh para pabrikan mobil sebagai salah satu nilai jual produk mereka.

">Teknologi EFI sebetulnya erat kaitannya dengan sistem manajemen di sini bukan dalam arti mesin, terjemahan dari kata machinery, melainkan motor bakar. Di sinilah bahan bakar minyak (BBM) dicampur dengan udara untuk menghasilkan gaya gerak yang membuat mobil bisa melaju.

">SME muncul seiring dengan menipisnya persediaan bahan bakar minyak sehingga menuntut yang semakin efisien tanpa kehilangan kinerja yang dihasilkannya.

Selain itu juga adanya tuntutan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup, terutama akibat polusi udara.

Oleh karena tuntutan itu, para ahli di setiap perusahaan otomotif dan perusahaan konsultan rekayasa setiap hari berusaha menemukan cara meningkatkan efisiensi yang ada.

Untuk mencapai tujuan itu, para pabrikan berlomba-lomba mencari dan menerapkan banyak teknologi baru. Mulai dari peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk mendesain pencarian dan penggunaan material baru, terobosan dalam proses produksi, dan yang terpenting, campur tangan kontrol elektronik dan komputer untuk mengatur kinerja dan peralatan pendukungnya.

Engine yang ideal membakar jumlah bahan bakar sesuai dengan kebutuhan serta menyalakan busi pada saat yang tepat sesuai dengan kondisi operasi. Dari sini didapatkan efisiensi pemakaian bahan bakar yang optimal pada setiap kondisi operasi. Kondisi ini akan menghasilkan emisi gas buang lebih baik.

Sebelum muncul sistem EFI, untuk mencampur bahan bakar dengan udara digunakan karburator. Dalam karburator ini bahan bakar dikabutkan sebagai akibat dari isapan vakum dari venturi. Proses ini mirip semprotan obat nyamuk bertipe pompa. Namun, sebagai alat yang murni mekanikal, karburator punya keterbatasan sehingga hanya efektif pada daerah operasi tertentu. Sehingga karburator dirancang efektif untuk engine putaran tinggi alias mobil sport. Jadi, tidak cocok untuk dipasang pada mobil minivan yang lebih mementingkan torsi dan tenaga di putaran bawah dan menengah.

Begitupun dengan sistem pengapian, arus listrik dari ignition coil disalurkan ke masing-masing busi melalui distributor. Di sini terdapat mekanisme untuk memajukan atau memundurkan waktu pengapian agar sesuai dengan kondisi engine yang merupakan gabungan dari vacuum advancer dan centrifugal advancer. Namun, sebagaimana karburator, sistem distributor konvensional ini juga punya keterbatasan, karena hanya optimum pada daerah operasi yang terbatas sesuai dengan karakteristik engine.

Mengingat keterbatasan sistem mekanis itu, para perekayasa berusaha menggabungkan sistem mekanis dengan kontrol elektronik. Gunanya agar diperoleh fleksibilitas yang lebih dalam daerah operasinya sehingga menghasilkan dengan kinerja optimum dalam daerah operasi yang lebih luas. Lahirlah apa yang disebut SME tadi.

SME kemudian menjadi perlengkapan wajib bagi mobil-mobil modern. Karena merupakan komponen penting, para pabrikan membungkusnya dalam nama yang berbeda dari pabrikan lain. Toyota dan Daihatsu memberi nama Electronic Fuel Injection alias EFI, sedangkan nama Bosch Motro-nic dipakai oleh BMW dan Peugeot.